Anying google entot jero


anying google entot jero-73

Wajah supirku sudah tidak asing lagi denganku, karena supir kami ini sudah bekerja dengan ayah sejak aku berumur 5 tahun. Aku sangat menghormatinya meskipun pekerjaannya hanya seorang supir. Tempat favoritku tetap di restoran kwee tiau Apeng.

Suasana restoran nampak tidak ramai, mungkin masih pagi hari.

Badanku terasa letih sekali karena perjalanan yang panjang. “Pinggangku wes mendingan, tapi roso-roso’ne pokangku rodo linu. (Pinggangku sudah mendingan, tapi rasanya pahaku rada linu. “Loh, Yanti sek tas mau takok yok opo cekno uenak … cekno uenak elus-elusan’e (Lho, Yanti tadi tanya gimana caranya biar enak … biar enak elus-elusannya)” jawabku menyakinkan Yanti. Yanti masih tetap memejamkan matanya, tapi tangannya mencoba meraba-raba pahaku mencari buah zakarku lagi.

Sepanjang perjalanan kami menghabiskan waktu mengobrol santai. Dahulu semasa sma, bahasa jawaku juga lumayan medok. Coba diurut juga pahaku)” jawabku ngawur tapi mengena. Setelah mendapatkan buah zakarku, Yanti kembali mengelus-elusnya lagi.

Kemacetan lalu lintas akibat banjir lumpur di kota Porong sempat menyita perjalanan pulang kami. pasti Yanti pisan hebat ndek bidang liyo (walah walah … pasti Yanti ada kehebatan di bidang lain) pujiku sekali lagi. (tuan muda Anton bisa aja sih)” jawab Yanti singkat. Posisi tubuhku kini terlentang, sehingga setiap urutan-urutan yang diberikan Yanti sangat terasa nikmat. Aku menjawab dengan mengeleng-gelengkan kepalaku pertanda tidak enak.